Indonesia Tunjukkan Komitmen di COP 23

INDONESIA akan memaksimalkan konferensi perubahan iklim global, UNFCCC COP 23, untuk menunjukkan komitmen, aksi nyata, serta penggalangan kerja sama dengan berbagai pihak dalam upaya pengurangan emisi karbon.

Hal itu dilakukan melalui sesi negosiasi dan soft diplomacy pada kegiatan yang berlangsung di Bonn, Jerman, pada 6-17 November 2017.

“Pesan Pak Presiden, agar kita menunjukkan komitmen kita dalam pengurangan emisi karbon serta aksi nyata yang telah kita lakukan,” ujar Menko Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan seusai sesi diskusi di Paviliun Indonesia dalam konferensi internasional itu, kemarin.

Ia menegaskan sudah banyak aksi nyata yang telah dilakukan Indonesia dalam upaya pengurangan emosi karbon untuk mitigasi perubahan iklim.

“Berbagai pihak juga telah meng-apresiasi kita karena kita tidak lagi sekadar bicara tentang isu perubahan iklim, tapi sudah melakukan berbagai aksi nyata,” imbuhnya.

Terkait dengan penggalangan kerja sama dengan pihak luar negeri, Luhut menegaskan posisi Indonesia bukan sebagai negara yang berharap bantuan dana semata.

Kerja sama juga bisa dilakukan dalam bentuk lain, misalnya bantuan teknologi, utamanya dengan negara-negara maju.

“Sebab negara kita punya posisi dan kontribusi penting yang dalam mitigasi perubahan iklim dunia,” katanya.

Ia mencontohkan, Indonesia menjadi memiliki ekosistem mangrove atau hutan bakau sebesar 3,1 juta hektare atau 23% dari total mangrove di dunia.

“Itu menyumbang oksigen ke dunia. Jadi kalau mereka (negara maju) punya teknologi (pelestarian dan pengembangan mangrove), ayo dong dibagi,” ucap dia.

Paviliun Indonesia

Pada kesempatan sama, penanggung jawab Paviliun Indonesia di UNFCCC COP 23, Agus Justianto, menjelaskan peran Paviliun Indonesia sebagai bagian dari soft diplomacy dalam konferensi internasional itu.

“Fungsinya antara lain untuk people engadgement untuk perwakilan berbagai pihak terkait dengan perubahan iklim,” katanya.

Ia menambahkan ada berbagai kegiatan di Paviliun Indonesia seluas 350 meter persegi itu, antara lain pameran, forum diskusi, dan pertunjukan seni budaya.

“Forum diskusi menampilkan berbagai pihak, dari pemerintah, swasta, LSM, pakar dari dalam dan luar negeri, hingga eminent person. Seperti beberapa hari lalu, Al Gore (mantan Presiden Amerika Serikat yang memiliki perhatian besar pada isu perubahan iklim) berbicara di sini.”

Wakil Ketua Komisi VII DPR, Satya Widya Yudha, mengapresiasi Paviliun Indonesia.

“Ini menjadi forum yang sangat penting karena bisa menggalang berbagai pihak terkait dengan mitigasi perubahan iklim, khususnya untuk Indonesia. Berbagai ide, aksi nyata, juga kritik terkait program mitigasi perubahan iklim ditampilkan di sini,” katanya.

http://www.mediaindonesia.com/news/read/131940/indonesia-tunjukkan-komitmen-di-cop-23/2017-11-14