Pertamina Diminta Buktikan Efisiensi

JAKARTA, KOMPAS — Kebijakan pemerintah tak menaikkan harga bahan bakar minyak jenis premium dan solar bersubsidi menjadi tantangan bagi PT Pertamina (Persero). Badan usaha milik negara ini ditantang untuk membuktikan kapasitasnya untuk dapat beroperasi dengan efisien.

Wakil Ketua Komisi VII DPR dari Partai Golkar, Satya Widya Yudha, mengatakan, selama ini, publik tidak bisa mengetahui persis capaian efisiensi yang dilakukan Pertamina. Pasalnya, perusahaan tersebut bukanlah perusahaan terbuka yang terdaftar di bursa saham. ”Kebijakan pemerintah tak mengubah harga BBM sampai tiga bulan pertama 2018, ibarat tantangan kepada Pertamina agar efisien. Pasalnya, tak ada cara lain selain mengefisienkan operasi mereka,” kata Satya, Kamis (28/12), di Jakarta.

Meski demikian, lanjut Satya, kebijakan tersebut bisa berdampak terhadap berkurangnya penerimaan deviden pemerintah dari Pertamina. Di sisi lain, postur APBN relatif terjaga lantaran selisih harga keekonomian premium dan solar bersubsidi dengan harga jual ke masyarakat sepenuhnya ditanggung Pertamina. ”Memang kebijakan tersebut bernuansa politik, karena tahun depan adalah tahun politik. Pemerintah tampaknya tak mau timbul gejolak inflasi dengan berusaha menjaga daya beli masyarakat,” ujar Satya.

Sebelumnya, Rabu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan, mengumumkan, harga premium dinyatakan tetap Rp 6.450 per liter dan solar bersubsidi Rp 5.150 per liter. Harga tersebut berlaku sampai 31 Maret 2018. Direktur Pemasaran Pertamina M Iskandar mengatakan, memang masih ada selisih harga antara yang dijual ke masyarakat dengan harga keekonomian premium dan solar. Penyebabnya adalah harga minyak dunia yang terus naik dalam beberapa bulan terakhir.

Sebagai badan usaha milik negara, Pertamina tunduk terhadap semua kebijakan pemerintah. ”Kami akan terus pantau perkembangan harga minyak ke depan. Belum tentu juga akan naik terus. Yang jelas, memang masih ada selisih harga keekonomian dengan harga jual sekarang,” kata Iskandar.

Berdasar catatan Pertamina, harga rata-rata minyak mentah tahun ini hingga November sebesar 50 dollar AS per barrel. Adapun harga rata-rata tahun 2016 sebesar 36 dollar AS per barrel. Berdasar laman Bloomberg hingga Kamis petang, harga minyak mentah jenis WTI sebesar 59,61 dollar AS per barrel dan Brent 66,36 dollar AS per barrel. Perolehan laba bersih Pertamina sampai triwulan III-2017 sebanyak 1,99 miliar dollar AS (setara Rp 27 triliun), turun dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 2,83 miliar dollar AS (setara Rp 38 triliun). Namun, pendapatan Pertamina sebesar 31,38 miliar dollar AS atau lebih tinggi daripada triwulan III-2016 yang sebanyak 26,62 miliar dollar AS

https://kompas.id/baca/ekonomi/2017/12/29/pertamina-diminta-buktikan-efisiensi/