Polusi Udara, Jakarta Merugi Rp 38,5 Triliun

Wartamelayu.com, Jakarta — Akhir Juni lalu, warganet di Twitter menyuarakan protes terkait buruknya kualitas udara di Jakarta. Mereka meramaikan dinding Twitter dengan tagar #SetorFotoPolusi.

Tagar ini disuarakan merespons laporan World Air Quality Report 2018 tentang kualitas udara di dunia. AirVisual IQAir. Jakarta, menurut laporan itu, menjadi kota paling terpolusi di Asia Tenggara, di urutan kedua Hanoi, Vietnam.

“Kualitas udara Jakarta pagi ini masih buruk ini kondisi menyedihkan. Greenpeace sangat mendukung gerakan yang diinisiasi masyarakat untuk #SetorFotoPolusi (dengan memfoto langit yang tidak biru dan di upload via sosmed masing-masing),” tulis akun @Greenpeaceid dikutip Sabtu (6/7).

Warganet saling menunjukkan gambar lanskap ibu kota yang diambil dari ketinggian, seperti dari pesawat, drone, atau dari gedung tinggi untuk memperlihatkan kini udara Jakarta tak lagi bersih. Ada juga yang membandingkannya dengan kondisi ibu kota masa lalu, atau perbandingan dengan daerah-daerah lainnya di Indonesia yang kualitas udaranya bersih.

Pengguna dengan nama akun Freudslipper misalnya, dia memotret suasana langit Jakarta dai Wisma 46, bangunan tertinggi kedua di Indonesia yang terletak di Jakarta Pusat. Dia mengaku, pada Maret silam masih bisa melihat bentuk gungung yang adadi ujung Banten, tapi saat foto barunya diunggah pada Juni, hanya kabut yang nampak.

“Foto ini diambil pada hari senin, 24 Juni 2019 lalu dari lantai 21 gedung Perpusnas, Jakarta. Warna langit yg kelabu bukan karena kabut awan, melainkan karena kabut polusi. #SetorFotoPolusi,” tulis pengguna lain dengan nama akun mfachri_27.

Berdasarkan laporan itu, polusi udara diperkirakan menelan korban sekitar 7 juta jiwa di seluruh dunia setiap tahun dan menimbulkan kerugian ekonomi. Laporan itu mengindikasi konsentrasi rata-rata tahunan particulate matter (PM) 2,5 di Jakarta tahun 2018 mencapai 45,3 µg/m3.

Mengutip Mongabay, konsentrasi PM 2,5 di Jakarta berada pada level empat kali lipat dari batas aman tahunan menurut standar WHO, yakni 10 µg/m3. Angka itu, melebihi batas aman tahunan, menurut standar nasional pada PP Nomor 41/1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara, yakni 15 µg/m3.

KLHK menyatakan bahwa sumber pencemar udara pada kategori PM (Particulate Matter atau debu) di Jakarta berasal dari sektor transportasi sebesar 70%, pada Maret 2019. Sedangkan berdasarkan riset inventory pada tahun 2012 hasil kompilasi data oleh ICEL, transportasi sebagai sumber pencemar berkontribusi sebesar 47%.

Paru-Paru Warga Tercemar Udara Kotor

Sejumlah warga yang tergabung dalam Gerakan Inisiatif Bersihkan Udara Koalisi Semesta (Ibu Kota) melayangkan gugatan warga negara ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Gugatan untuk menuntut hak mendapatkan udara bersih.

Terdapat tujuh tergugat, mereka adalah Presiden RI, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Menteri Kesehatan, Menteri Dalam Negeri, Gubernur DKI Jakarta, serta Gubernur Jawa Barat dan Gubernur Banten.

Istu Prayogi, salah satu penggugat, mengatakan buruknya udara Jakarta berdampak besar bagi kondisi kesehatannya. Istu merupakan warga Depok, yang menghabiskan 30 tahun bekerja di Jakarta.

“Dokter memvonis bahwa paru-paru saya terdapat bercak-bercak, dan menyatakan bahwa paru-paru saya sensitif terhadap udara tercemar. Dokter kemudian menyuruh saya selalu memakai masker karena saya sensitif terhadap udara kotor,” ujarnya lewat pesan tertulis yang diterima redaksi, Sabtu (6/7).

Penggugat lainnya Leona, mengaku aktivitasnya terganggu karena polusi udara Jakarta. Apalagi, ia merupakan kelompok rentan yang memang memiliki penyakit pernapasan. Dia harus siap sedia obat antiasma ventolin inhaler dan masker N95.

“Selain berat karena perasaan tidak nyaman yang timbul saat penyakit saya kambuh, juga berat dari segi biaya. Saya kan bukan orang berpenghasilan tapi harus rela keluar uang lebih buat nebulizer karena tidak ditanggung BPJS, dan juga untuk membeli masker N95 yang terbilang mahal,” katanya.

Indonesia Negara ke-6 Penyumbang Polusi Dunia

Mengutip laporan Bank Dunia “Air Pollution and its Implication For Indonesia: Challanges and Imperatives for Change” (April 2017) menyatakan bahwa Indonesia adalah penghasil gas rumah kaca terbesar ke-6 di dunia dan berkontribusi 4,5% dari total emisi gas rumah kaca global (IEA 2015). Transportasi darat menyumbang sekitar 12% dari total polusi nasional.

Sementara, polusi udara perkotaan menyumbang angka hampir 90% (CO, HC, NOx, SOx, PM, O3). Sebanyak 90% emisi berasal dari transportasi jalan raya. Sebanyak 70% polusi kota berasal dari sektor transportasi.

Mengambil kasus Jakarta, Satya Widya Yudha, Ketua Kaukus Ekonomi Hijau, DPR RI dalam laporan tersebut mengungkapkan bahwa total biaya kesehatan yang harus ditanggung akibat polusi udara Jakarta sebesar Rp38,5 triliun dengan angka populasi 9607.787 (2010).

Dia menjabarkan, sebanyak 57,8% dari populasi menderita berbagai penyakit akibat polusi udara ini. Sedikitnya, sebanyak 1.210.581 orang menderita bronchiale asma. Sekitar 173.487 orang bronkopneumonia, lalu 2.449.986 orang dengan ISPA, 336.273 orang dengan pneumonia, 153.724 mengidap COPD dan 1.246.130 berpenyakit arteri koroner.

Persentase Kematian Dari Penyakit Jantung Iskemik, Stroke, Kanker Paru, COPD, ARI (2012) adalah 29% akibat polusi udara yang dihasilkan rumah tangga. Secara nasional, pada tahun 2010 sekitar 45% dari 25.300 kematian anak disebabkan oleh pernapasan akut akibat polusi. (Rap/*/Dry/INI-Network)

https://wartamelayu.com/polusi-udara-jakarta-merugi-rp-385-triliun/