Satya Yudha: Fluktuasi Harga Premium Tak Langgar Konstitusi

Jakarta - Batalnya kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Premium beberapa waktu lalu menjadi sorotan berbagai pihak, termasuk salah satu anggota MPR Satya W. Yudha. Menurutnya fluktuasi harga BBM khususnya Premium bukanlah pelanggaran konstitusi, karena premium berbeda dengan harga BBM jenis Pertamax.

Menurutnya, harga BBM jenis Premium masih mendapat subsidi dari pemerintah, namun subsidi bukan diberikan pada market price (harga) melainkan pada target. Sedangkan harga BBM jenis Pertamax memang tidak mendapat subsidi sehingga harga diserahkan kepada pasar.

“Jadi, fluktuasi harga BBM jenis Premium bukanlah pelanggaran konstitusi. Premium tetap mendapat subsidi, tapi bukan subsidi pada harga premium. Harga premium masih regulated (diatur pemerintah). Kalau tidak diatur pemerintah, harga BBM premium dilepas ke pasar (market price) seperti Pertamax dan itu melanggar UUD NRI Tahun 1945 pasal 33,” jelas Satya, dalam keterangan tertulis, Senin (15/10/2018).

Meski pembatalan tersebut menimbulkan pertanyaan di masyarakat. Namun, menurut Satya keputusan pemerintah itu seharusnya tidak perlu terjadi. “Sebab kebijakan kita adalah setiap tiga bulan pemerintah mengevaluasi harga BBM,” katanya

Namun, lanjut Satya, sejak tahun 2016 kebijakan itu tidak dijalankan lagi. Harga premium tidak dievaluasi dan terus bertahan sehingga tidak mengalami kenaikan hingga saat ini.

“Kalau kemarin ada pengumuman kenaikan premium, saya bingung. Sebab, kebijakannya adalah setiap tiga bulan harga BBM dievaluasi,” kata politisi Partai Golkar ini.

Pertamina menahan harga premium padahal harga keekonomian premium sudah tinggi dibanding harga yang ditetapkan Pertamina. Sementara premium tidak mendapat subsidi lagi dari APBN. Subsidi untuk BBM Premium sudah dialihkan ke sektor lainnya seperti BPJS. Akibatnya, Pertamina harus menanggung selisih harga premium.

“Siapa yang diuntungkan? Pertamina tentu menanggung beratnya karena menahan harga premium. Kalau mau dibilang pencitraan, silakan saja. Ini adalah upaya untuk melindungi masyarakat. Tapi, sesungguhnya itu tidak perlu terjadi,” kata Satya yang pernah bertugas di Komisi VII DPR membidangi urusan energi.

Sementara itu Kepala Divisi Advokasi dan Hukum Partai Demokrat, Ferdinand Hutahaen, menyebutkan kekisruhan kenaikan harga BBM jenis premium karena pemerintah tidak konsisten menjalankan kebijakan evaluasi harga BBM setiap tiga bulan yang diatur dalam Perpres 191.

“Persoalannya, pemerintah tidak konsisten menjalankan Perpres itu sehingga menjadi bermasalah,” ujarnya.

Menurutnya, nilai harga jual premium tidak ekonomis. Harga produksi sudah lebih tinggi dari harga jual. Harga ekonomi BBM jenis premium saat ini sekitar Rp 9.800/liter, sedangkan harga jual premium saat ini Rp 6.550/liter.

“Ada selisih harga yang harus ditanggung Pertamina. Beban yang ditanggung Pertamina ini sesungguhnya adalah subsidi. Seharusnya yang ditanggung badan usaha ini tidak boleh. Sebab, subsidi harus dari APBN,” tegas Ferdinand.

“Kerugian Pertamina ini luar biasa, mencapai puluhan triliun setiap bulan. Saya prediksi kalau ini terus terjadi selama tiga bulan, Pertamina akan collaps, apalagi utang Pertamina mencapai Rp 150 triliun,” sambung Ferdinand.

https://news.detik.com/berita/4257855/satya-yudha-fluktuasi-harga-premium-tak-langgar-konstitusi